Laman

Minggu, 11 Oktober 2009

Tolonglah... Dengarkan Apa yang Tidak Kuucapkan

Kemarin gue minjem the 7 habits of highly effective teens milik Putri Khairunisa, teman saya yang baik hati itu. Maaf, Pukhoi, bukunya belum selesai dibaca. Hehheee... ada satu sajak yang gue suka, judulnya seperti yang menjadi judul postingan ini.


Jangan terkecoh olehku. Jangan terkecoh oleh topeng yang kupakai. Karena aku memakai topeng, aku memakai seribu topeng, topeng yang takut kulepaskan, yang tak satupun adalah diriku. Pura-pura adalah seni yang jadi sifat kedua bagiku, tapi jangan terkecoh deh.
... Aku memberikan kesan bahwa aku tentram, bahwa semuanya beres, baik di dalam batin maupun lingkunganku; bahwa kepercayaan diri adalah ciri-ciriku dan sikap tenang adalah kebiasaanku; bahwa perairannya tenang dan bahwa akulah yang memegang kendali dan aku tak butuh siapapun. Tetapi jangan percaya deh; kumohon.
Aku ngobrol dengan santai denganmu dengan nada basa-basi. Aku katakan segalanya yang sebenarnya tak ada artinya, yang sama sekali lain dari pada seruan hatiku. Jadi, kalau aku sedang berceloteh, jangan terkecoh oleh apa yang kuucapkan. Tolong dengarkan dengan seksama dan berusahalah mendengar apa yang tidak kuucapkan; apa yang ingin dapat kuucapkan; apa, demi keselamatan, yang perlu kuucapkan tetapi tidak bisa. Aku tidak suka bersembunyi. Sejujurnya loh. Alo tidak suka permainan basa-basi yang kumainkan ini.
Sebenarnya aku ingin tulus, spontan, dan menjadi diriku sendiri; tetapi kamu harus menolong aku. Kamu harus menolong aku dengan mengulurkan tanganmu, sekalipun kelihatannya aku tidak meningingkannya atau membutuhkannya. Setiap kali kamu bersikap baik serta embut dan memberikan dorongan, setiap kali kamu berusaha mengerti karena kamu sungguh peduli, hatiku bersayap. Sayap kecil sih. Sayap lemah sih. Tetapi pokoknya bersayap. Dengan kepekaanmu dan simpatimu serta daya pengertianmu, aku bisa menanggung semuanya. Kamu bisa menghembuskan napas kehidupan ke dalam diriku. Pasti tidak mudah bagimu. Keyakinan akan ketidakberhargaan yang sudah lama pasti membangun dinding yang kuat. Tetapi kasih itu lebih kuat dari pada dinding yang kuat, dan disanalah letaknya pengharapanku. Tolong usahakan untuk merubuhkan dinding itu dengan tangan-tangan yang kokoh, tetapi lembut, karena seorang anak itu peka, dan aku ini anak-anak.
Siapa sih aku, mungkin kamu bertanya-tanya. Karena aku adalah setiap pria, setiap wanita, setiap anak-anak... setiap manusia yang kamu temui.

(dikutip dari The 7 Habbits of Highly Effective Teens P. 244-245)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

Template by Suck My Lolly - Background Image by TotallySevere.com