Laman

Selasa, 22 Februari 2011

demon princess-prologue

I'm trying to make an english novel. Well, I apologize if my english is not good enough. But, I'm trying to make it easy reading. Here's the story:




Now, I am frightened. I think you don’t have to be an oracle to know your death. At least I don’t need to be an oracle right now to know when I’ll die. It’s all because there is a big-old-high-speed truck come to crash me until the tiny cells of mine.

Let me think about it, Magista the Oracle, a friend of mine, never told me about my death. Or maybe she had told me but I don’t heard it? Yeah.. maybe like that.

Oh, I don’t want to die right now. Not in this bloody hell ridiculous outfit. What the hell people will talk? They’ll gossiping my clowny death all days! That fucking Patrice the Foise, a half-medusa-half-human whose my assistant, will pay if I meet her again. If I can save from this death.

Oh.. people said when we are gonna die, we will find out there are a lot of faults we do, and we’ll regret it. I think it’s right. Because I remember I haven’t fed Feriana, my beloved cat, when I left home this morning. Oh.. poor Feriana, who will fed her if I die?

Now I am regretting why this morning I have to elope with my jerk-boyfriend (I think now officially ex-boyfriend). I should listen more to mum who said that a keyrk, half-evil-half-human, like him is a jerk. Even it have a similar rhyme! Ooh.. Patty will happy if hear I can make a good rhyme!

Okay, here we go. I think I am going to close my eyes for good. Because I don’t want to see it, really.

Rabu, 09 Februari 2011

J'adore Mes Parents

Aneh. Orangtua ku keduanya berasal dari sebuah desa kecil di Kedungwuni yang terletak di kabupaten Pekalongan. Iya, Pekalongan yang itu, Pekalongan yang terkenal dengan batiknya. Hal yang menurutku aneh adalah mereka justru awal mula bertemunya di Jakarta. Benar, Jakarta yang penuh polusi dan macet ini.

Ibuku pernah bercerita bagaimana mereka bisa bertemu. Saat itu ibuku sedang liburan ke Jakarta, ibukota Indonesia kita yang tercinta ini. Dan bapakku ke Jakarta karena berdagang. Iya, bapakku dulu sering bolak-balik Pekalongan-Jakarta-Pekalongan untuk berdagang membantu almarhum kakekku.

Lalu nasib menentukan mereka untuk berjodoh, hingga akhirnya menikah dan mempunyai putri-putri yang cantik. Pada awal mereka menikah, bapakku masih sering bolak-balik Pekalongan-Jakarta-Pekalongan untuk menafkahi keluarga barunya, dan ibuku ditinggal di rumah orangtuanya. Karena peruntungan seorang pedagang tidak menentu, akhirnya ibuku memutuskan untuk ikut mencari pekerjaan. Ibuku diterima bekerja sebagai buruh pabrik tekstil di Pemalang, desa yang dekat dengan Pekalongan.

Demi mencari uang, ibuku lantas tidak memberikan ASI ekslusif untuk kakak pertamaku. Ya, ASI ekslusif yang sedang digembar-gemborkan itu. Hasilnya kakak pertamaku jika sakit akan merasa lemas sekali, tidak seperti aku yang walaupun sakit, tapi masih segar bugar.

Lalu saat kakak pertamaku mulai memasuki usia sekolah TK, keluarga kami hijrah ke Jakarta. Jadi, kalau dihitung-hitung, orangtuaku sudah tinggal di Jakarta selama hampir 20 tahun lebih.

Namun entah kenapa, pengalaman selama 20 tahun itu tidak bisa mengubah cara pandang orantuaku yang naif. Sampai sekarang, mereka masih bisa dengan mudahnya ditipu orang. Terkadang mereka tidak mendengarkan nasihat anak-anaknya untuk tidak mudah percaya dengan orang lain. Ya, mungkin memang kebanyakan dari orangtua tidak pernah mendengarkan nasihat dari anaknya. Tapi apa salahnya mendengar pendapat anaknya kalau benar?

Kenaifan orangtuaku semakin menjadi semenjak bapakku mengalami kecelakaan motor itu. Bapakku mengalami patah tulang di kaki dan tangannya. Pengobatan medis telah dilakukan namun hingga sekarang bapakku masih belum bisa berjalan.

Dan orangtuaku mulai mencoba pengobatan alternatif. Pengobatannya aneh-aneh, dari yang masih masuk akal hingga yang tidak masuk akal. Ibuku pun tidak kalah naifnya dibanding bapakku.

Salah satu kenaifan ibu adalah saat adanya pengobatan alternatif gratis keliling di kompleks rumahku. Dari awal aku sudah tidak suka dengan pengobatan itu. Mereka melakukan terapi pijatan massal. Jadi semua pasien dikumpulkan dahulu dan beru kemudian dipijat. Oke, sampai terapi pijatan itu aku masih memakluminya, karena memang ada beberapa pengobatan alternatif yang seperti itu. Tapi hal itu menjadi aneh saat terapi pijatan selesai, si tabibnya itu menyabetkan sebuah kain warna merah ke tubuh pasien sambil si tabib dan para pasien mengumandangkan salawat nabi. Maksudku, apa esensinya dengan mneyabetkan kain itu? Ibuku bilang, kain itu telah didoakan dan diberi jampi-jampi. Tapi, hey! bukankah hal itu tidak sesuai dengan agama Islam? Setahuku Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mengkeramatkan sesuatu bukan? Koreksi aku jika aku salah.

Sejak itu aku tidak pernah mau datang ke pengobatan alternatif itu walaupun ibuku selalu mendesakku untuk pulang kuliah lebih cepat. Dan aku membiarkan ibuku untuk mengikuti pengobatan alternatif itu. Ya, selama itu masih gratis nggak apa-apa lah.

Namun belakangan aku baru tahu ibuku telah tertipu (lagi). Aku tahu saat guru spiritual ibuku datang ke rumah. Ibuku menanyakan apakah memang benar dirinya mempunyai penyakit jantung dan beberapa komplikasi penyakit pada gurunya (jadi gurunya itu punya sixth sense gitu). Dan ibuku bercerita tabib di pengobatan alternatif itu yang bilang begitu dan menyarankan untuk membeli obat darinya seharga Rp300.000,00. Ibuku yang naif pun menurut untuk membelinya. Padahal, menurut guru spiritual ibuku, ibuku sehat dan tidak ada penyakit apapun.

Kalau masalah penipuan bapakku, pernah suatu waktu saat aku pulang kuliah, aku mendapati rumah bau asap yang tidak enak. Saat kutanya ibuku apa yang dimasaknya hingga membuat bau yang tidak mengenakan ini, dia menjawab, "itu kotoran ayanm untuk obat bapakmu". Astagfirullahaladzim... untuk apa kotoran ayam dijadikan obat? Bapakku mau-mau saja lagi saat disuruh minum air rebusan kotoran ayam itu.

Alhamdulillah sekarang bapakku sudah tidak mengkonsumsi kotoran ayan itu lagi. Alasannya mungkin karena akhirnya ia sadar itu tidak memberikannya manfaat atau mungkin juga karena para tetangga komplain dengan baunya yang tidak enak dan menyebar ke rumah mereka.

Rasanya sedih dan marah mendengar hal itu. Setiap mendengar ibu atau bapakku ditipu seperti itu rasanya ada yang membuatku merasa ngenes mendengarnya. Kenapa mereka selalu bisa kena tipu? Apakah pengalaman tinggal di Jakarta selama 20 tahun lebih itu tidak cukup?

Aku bingung, kenapa mereka bisa dengan mudahnya mengeluarkan uang untuk hal-hal yang tidak masuk akal. Namun jika aku membeli novel baru, walaupun dengan uang jajanku sendiri yang kusisihkan, mereka selalu protes dan bahkan ingin membakar novelku. Padahal novel adalah buku, dan buku adalah jendela dunia. Dengan buku kita bisa menjadi manusia yang berintelek dan menjadi manusia yang lebih baik lagi bukan?

Entahlah apa yang ada dipikiran mereka. Setiap hari aku selalu berharap dan berdoa, semoga orangtuaku tidak ditipu lagi. Karena, walau bagaimanapun juga, mereka tetap orangtuaku yang kusayang. J'adore mes parents. J'aime mon pere. J'adore ma mere.
 

Template by Suck My Lolly - Background Image by TotallySevere.com